Kamis, 07 Maret 2013

Prinsip Motivasi dan Kepemimpinan


Prinsip Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu. Memengaruhi motivasi seseorang berarti membuat orang tersebut melakukan apa yang kita inginkan. Karena fungsi utama dari kepemimpinan adalah untuk memimpin, maka kemampuan untuk memengaruhi orang adalah hal yang penting.

Prinsip Dasar Motivasi

Penelitian Kenneth Gangel, dalam bukunya "Competent to Lead", menunjukkan bahwa orang tidak termotivasi untuk bekerja lebih baik,  karena dia mendapat gaji yang lebih tinggi atau tunjangan yang lebih banyak.
Motivasi adalah suatu fenomena psikologis, sehingga kita perlu mengetahui pendapat dari para psikolog. Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psychological Services, mencetuskan enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini.
Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses  emosional, bukan logis.
Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari  dirinya sendiri.
Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi  atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.
Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang  bersumber dari motivasional di masa lalu.

Pendorong Motivasi

Motivasi seseorang sering kali dipengaruhi oleh dua hal berikut.

  • Seberapa mendesaknya suatu kebutuhan. Misalnya, kita merasa  lapar, namun harus menyelesaikan satu tugas dengan segera. Kalau kita merasa sangat lapar, kita akan makan. Tapi bila kita hanya   sedikit merasa lapar, kita akan memilih untuk menyelesaikan tugas.
  • Anggapan bahwa suatu tindakan akan memenuhi suatu kebutuhan.   Misalnya, ada dua kebutuhan yang mendesak -- keinginan untuk  menyelesaikan tugas atau makan. Persepsi tentang bagaimana kita   memandang dua kebutuhan tersebut sangat menentukan mana  yang akan diprioritaskan. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa dipecat   karena tugas tidak selesai, kita akan mengorbankan waktu makan  siang untuk mengerjakannya. Sebaliknya, jika kita merasa tidak  akan mendapat masalah walaupun pekerjaan itu tidak selesai, kita  akan pergi untuk makan siang

Orang dapat termotivasi karena kepercayaan, nilai, minat, rasa takut, dan sebagainya. Diantaranya adalah faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan kepercayaan. Faktor lainnya adalah faktor eksternal, misalnya bahaya, lingkungan, atau tekanan dari orang yang dikasihi. Tak ada proses yang mudah dalam motivasi -- kita harus selalu terbuka dalam memandang orang lain.

Menjadi Motivator yang Baik

Adalah penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui bagaimana cara memotivasi karyawannya. MM Feinberg menjabarkan beberapa tindakan yang tidak memotivasi orang lain.

  • Meremehkan bawahan. Tindakan ini bisa membunuh rasa percaya diri dan inisiatif karyawan.
  • Mengkritik karyawan di depan karyawan lain. Tindakan ini pun bisa  merusak hubungan yang sudah terbina baik.
  • Memberi perhatian setengah-setengah atau tidak memerhatikan  karyawan. Kalau seorang pemimpin tidak memedulikan  karyawannya, maka rasa percaya dirinya akan luntur.
  • Memerhatikan diri sendiri. Pemimpin yang seperti ini dianggap egois dan hanya memanipulasi karyawan untuk kepentingannya sendiri.
  • Menganak emaskan seorang karyawan.
  • Tindakan ini sebaiknya juga  tidak dilakukan, karena bisa merusak moral karyawan lain.
  • Tidak mendorong karyawan untuk berkembang. Kalau karyawan  merasa bahwa bos juga ikut berjuang bersama, mereka akan sangat  termotivasi. Informasikan kesempatan yang ada dan jangan pernah mengekang minat para karyawan.
  • Tidak memedulikan hal-hal kecil. Apa yang nampaknya kecil bagi Anda, mungkin saja sangat penting untuk karyawan.
  • Merendahkan karyawan yang kurang terampil. Seorang pemimpin memang wajib menolerir ketidakmampuan karyawannya, namun  harus hati-hati dalam menangani permasalahan yang ditimbulkan agar tidak sampai mempermalukan karyawannya.
  • Ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Atasan yang ragu-ragu  mengakibatkan kebimbangan di seluruh organisasi.

Sesungguhnya, cara yang paling baik untuk memotivasi karyawan adalah melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Saran, rekomendasi, dan kritik adalah pendorong yang paling efektif dan sangat memotivasi organisasi yang berani menerapkannya dan dapat memotivasi diri.

Kisah dua sahabat karib


....Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati tapi dengan tanpa berkata-kata dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. 

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin....”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dengan pasangan, suami / isteri, kekasih, adik / kakak, kolega, dll, karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebih besar ketimbang kekecewaan masa lalu. 

Senin, 18 Februari 2013

Lagu Mars PPNI

Lagu Mars PPNI untuk Perawat di Indonesia

Senin, 14 Januari 2013

THE MAN WITH THE IRON FISTS



Dari Wu Tang Clan ke The Man with the Iron Fists, RZA mengubah dirinya dari seorang rapper/komposer menjadi sutradara/aktor. Dalam proses transformasi tersebut, RZA membawa kecintaannya kepada kung fu dan hip hop ke dalam perpaduan seni visual yang menarik. Aksi baku hantam dengan kostum dan latar film kung fu klasik disandingkan dengan dentuman lagu hip hop yang provokatif langsung ditonjolkan di awal film perdananya tersebut.
Berawal dari posisi komposer dalam film Kill Bill, RZA berpindah haluan menjadi murid sang sutradara kawakan, Quentin Tarantino. Ide cerita The Man with the Iron Fists yang pertama kali muncul pada tahun 2005 pun mulai digarap. Bukan hanya Tarantino yang menurunkan pengetahuan yang menjadikannya seorang legenda di industri film, RZA juga mendapat bantuan Eli Roth, otak di balikfranchise Hostel, dalam menulis naskah. Hasilnya, The Man with the Iron Fists menghadirkan tampilan visual yang indah, sekaligus sadis dan penuh darah.

Download Film: http://tny.cz/dd0bab44

Kamis, 27 Oktober 2011

PEMERIKSAAN FISIK

1. DERAJAT KESADARAN
   a. Compos Mentis yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang    keadaan sekelilingnya.
   b. Apatis yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
   c. Somnolen (Obtundasi, Letargi) yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
   d. Stupor yaitu gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala.
   e. Semi Koma yaitu tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar (contoh menghindari tusukan).
   f. Koma yaitu tidak bereaksi terhadap stimulus.

2. TANDA – TANDA VITAL
   a. Tekanan darah
      Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
       Bayi usia di bawah 1 bulan :      85/15 mmHg
       Usia 1 - 6 bulan :      90/60 mmHg
       Usia 6 - 12 bulan :      96/65 mmHg
       Usia 1 - 4 tahun :      99/65 mmHg
       Usia 4 - 6 tahun :      100/60 mmHg
       Usia 6 - 8 tahun :      105/60 mmHg
       Usia 8 - 10 tahun :      110/60 mmHg
       Usia 10 - 12 tahun :      115/60 mmHg
       Usia 12 - 14 tahun :      118/60 mmHg
       Usia 14 - 16 tahun :      120/65 mmHg
       Usia 16 tahun ke atas :      130/75 mmHg
       Usia lanjut :      130-139/85-89 mmHg

      Tempat untuk mengukur tekanan darah seseorang adalah:
       Lengan atas
       Pergelangan kaki
   b. Nadi
      Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
      • Ateri radalis : Pada pergelangan tangan
      • Arteri temporalis : Pada tulang pelipis
      • Arteri carotis : Pada leher
      • Arteri femoralis : Pada lipatan paha
      • Arteri dorsalis pedis : Pada punggung kaki
      • Arteri poplitea : pada lipatan lutut
      • Arteri bracialis : Pada lipatan siku

      Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
      • Bayi baru lahir : 110 – 180 kali per menit
      • Dewasa : 60 - 100 kali per menit
      • Usia Lanjut : 60 -70 kali per menit
   c. Pernafasan
      Satu kali Respirasi = satu kali Inspirasi + satu kali Ekspirasi
      Jumlah pernapasan normal adalah:
      1) Bayi : 30 - 40 kali per menit
      2) Anak : 20 - 50 kali per menit
      3) Dewasa : 16 - 24 kali per menit
   d. Suhu badan
      Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:
      1) Ketiak/ axilea, pada area ini termometer didiamkan sekitar 10 - 15 menit.
      2) Anus/ dubur/ rectal, pada area ini termometer didiamkan sekitar 3 - 5 menit.
      3) Mulut/oral, pada area ini termometer didiamkan sekitar 2 - 3 menit
      Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal, jika suhu tubuhnya berada pada 36ºC - 37,5ºC.

3. SISTEM CARDIOVASKULER
   a. INSPEKSI
      Jantung, secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum.
      Dilakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis mitral. dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita. Pulsasi ini letaknya sesuai dengan apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan punctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu sistolis ventrikel. Bila ictus kordis bergeser ke kiri dan melebar, kemungkinan adanya pembesaran ventrikel kiri.
   b. PALPASI
      1) Denyut apeks jantung (iktus kordis)
         Dalam keadaaan normal, dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat didalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra. Pada anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV.
      2) Denyutan nadi pada dada
         Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan pada aorta.
         Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II kanan, sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a. pulmonalis dan aneurisma aorta descenden.
      3) Getaran/Trhill
         Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katup bawaan atau penyakit jantung congenital. Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat. Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung.
   c. PERKUSI
      Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung.
      Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi pericardium dan aneurisma aorta.
      1) Batas kiri jantung
         Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial.
         Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri.
         Normal: Atas : ICS II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung)
                 Bawah: ICS V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri  (tempat iktus)
      2) Batas Kanan Jantung
         Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.
         Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak
         Normal : Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal, III-IV kanan, di linea parasternalis kanan.
      3) Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan.
   d. AUSKULTASI
      Auskultasi bunyi jantung dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :
      1) Dengarkan BJ I pada :
         ICS IV line sternalis kiri (BJ I Tricuspidalis)
         ICS V line midclavicula/ICS III linea sternalis kanan (BJ I Mitral)
      2) Dengarkan BJ II pada :
         ICS II lines sternalis kanan (BJ II Aorta)
         ICS II linea sternalis kiri/ICS III linea sternalis kanan (BJ II Pulmonal)
      3) Dengarkan BJ III (kalau ada)
         Terdengar di daerah mitral
         BJ III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup jauh, tetapi tidak melebihi separo dari fase diastolik, nada rendah
         Pada anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah normal
         Pada orang dewasa/tua yang disertai tanda-tanda oedema/dipneu, BJ III merupakan tanda abnormal.
         BJ III pada decomp. disebut Gallop Rythm.
Dari jantung yang normal dapat didengar lub-dub, lub-dub, lub-dub. Lub adalah suara penutupan katup mitral dan katup trikuspid, yang menandai awal sistole. Dub adalah suara katup aorta dan katup pulmonalis sebagai tanda awal diastole. Pada suara dub, apabila pasien bernafas akan terdengar suara yang terpecah.

4. SISTEM PENCERNAAN
   a. INSPEKSI
      1)  Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh.
      2)  Inspeksi cavum oris, lidah untuk melihat ada tidaknya kelainan.
      3)  Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi otot- otot  abdomen.
      4)  Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen.
      5)  Pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen, bentuk perut, simetrisitas, jaringan parut, luka, pola vena, dan  striae serta bayangan vena dan pergerakkan abnormal.
      6)  Perhatikan posisi, bentuk, warna, dan inflamasi dari umbilikus.
      7)  Perhatikan pula gerakan permukaan, massa, pembesaran atau penegangan. Bila abdomen tampak menegang, minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul, tanyakan kepada pasien apakah abdomen terasa lebih tegang dari biasanya.
      8)  Bila terjadi penegangan abdomen, ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/ perban seputar abdomen melalui umbilikus. Buatlah simpul dikedua sisi tali/ perban untuk menandai dimana batas lingkar abdomen, lakukan  monitoring, bila terjadi peningkatan perenggangan abdomen, maka jarak kedua simpul makin menjauh.
      9)  Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal.
      10) Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau denyutan aortik.
   b. PALPASI
      1) Abdomen
         a) Posisi pasien berbaring terlentang dan pemeriksa disebelah kanannya.
b) Lakukan palpasi ringan di tiap kuadran abdomen dan hindari area yang telah diketahui sebelumnya sebagai titik bermasalah, seperti apendisitis.
c) Tempatkan tangan pemeriksa diatas abdomen secara datar, dengan jari- jari ekstensi dan berhimpitan serta pertahankan sejajar permukaan abdomen.
d) Palpasi dimulai perlahan dan hati-hati dari superfisial sedalam 1 cm untuk mendeteksi area nyeri, penegangan abnormal atau adanya massa.
e) Bila otot sudah lemas dapat dilakukan palpasi sedalam 2,5 – 7,5 cm, untuk mengetahui keadaaan organ dan mendeteksi adanya massa yang kurang jelas teraba selama palpasi
f) Perhatikan karakteristik dari setiap massa pada lokasi yang dalam, meliputi ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, nyeri, denyutan dan gerakan
g) Perhatikan wajah pasien selama palpasi untuk melihat adanya tanda/ rasa tidak nyaman.
h) Bila ditemukan rasa nyeri, uji akan adanya nyeri lepas, tekan dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tekanan.
i) Minta pasien mengangkat kepala dari meja periksa untuk melihat kontraksi otot-otot abdominal
      2) Hepar
a) Posisi pasien tidur terlentang.
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c) Letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga kesebelas dan keduabelas dan tekananlah  kearah atas.
d) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.
e) Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas.
f) Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
      3) Kandung Empedu
a) Posisi pasien tidur terlentang.
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c) Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dibawah dada kanan posterior pasien pada iga XI dan XII dan tekananlah  kearah atas.
d) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.
e) Kemudian tekan lembut ke dalam dan ke atas.
f) Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
g) Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus.
h) Bila diduga ada penyakit kandung empedu, minta pasien untuk menarik napas dalam selama palpasi.
      4) Limpa
a) Posisi pasien tidur terlentang
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
c) Letakkan secara menyilang telapak tangan kiri pemeriksa di bawah pinggang kiri pasien dan tekanlah keatas.
d) Letakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari ektensi diatas abdomen dibawah tepi kiri kostal.
e) Tekanlah ujung jari kearah limpa kemudian minta pasien untuk menarik napas dalam.
f) Palpasilah tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa
g) Apabila dalam posisi terlentang tidak bisa diraba, maka posisi pasien berbaring miring kekanan dengan kedua tungkai bawah difleksikan.
h) Pada keadaan tertentu diperlukan Schuffner test
      5) Aorta
a) Posisi pasien tidur terlentang
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
c) Pergunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.
d) Palpasilah dengan perlahan namun dalam ke arah abdomen bagian atas tepat garis tengah.
      6) Pemeriksaan Asites
a) Posisi pasien tidur terlentang.
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c) Prosedur ini memerlukan tiga tangan.
d) Minta pasien atau asisten untuk menekan perut pasien dengan sisi ulnar tangan dan lengan atas tepat disepanjang garis tengah dengan arah vertikal.
e) Letakkan tangan pemeriksa dikedua sisi abdomen dan ketuklah dengan tajam salah satu sisi dengan ujung- ujung jari pemeriksa.
f) Rasakan impuls / getaran gelombang cairan dengan ujung jari tangan yang satunya atau bisa juga menggunakan sisi ulnar dari tangan untuk merasakan getaran gelombang cairan.
      7) Colok Dubur
Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan sehingga ditaruh paling akhir). Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi miring (symposisi), lithotomi, maupun knee-chest. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan satu tangan maupun dua tangan (bimanual, satu tangannya di atas pelvis). Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif, mudah kontraksi. Oleh karena itu colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. Sebaiknya penderita kencing terlebih dahulu. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi jam yakni jam 3 sebelah kanan, jam 9 sebelah kiri, jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah pubis.
   c. AUSKULTASI
      1) Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi.
      2) Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala.
      3) Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma di daerah kuadran kiri bawah. Berikan tekanan ringan, minta pasien agar tidak berbicara. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus.
      4) Dengarkan bising usus apakah normal, hiperaktif, hipoaktif, tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/karakternya.
      5) Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen.
      6) Kemudian gunakan sisi bel stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta torakal. Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta.
   d. PERKUSI
      1) Abdomen
Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus, kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas, ginjal.
      2) Perkusi Batas Hati
a) Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien.
b) Lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut.
c) Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati.
d) Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.
e) Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai ke celah tulang iga ke 7.
f) Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 cm.
      3) Perkusi Lambung
a) Posisi pasien tidur terlentang.
b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c) Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.
d) Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani

5. PENGKAJIAN SISTEM PERNAFASAN
   a. Inspeksi
      1) Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.
      2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
      3) Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, lesi, massa, gangguan tulang belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis, jumlah irama, kedalaman pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
      4) Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
      5) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). ratio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD.
      6) Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1:2 sampai 5:7, tergantung dari cairan tubuh klien.
      7) Kelainan pada bentuk dada :
a) Barrel Chest, Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP : T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema.
b) Funnel Chest (Pectus Excavatum), Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan’s syndrome atau akibat kecelakaan kerja.
c) Pigeon Chest (Pectus Carinatum), Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat.
d) Kyphoscoliosis, Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax.
e) Kiposis ,meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan klien tampak bongkok.
f) Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.
      8) Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura.
      9) Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan nafas.
   b. Palpasi
      1) Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal premitus (vibrasi).
      2) Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa, lesi, bengkak.
      3) Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.
      4) Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.
   c. Perkusi
      1) Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya dan pengembangan (ekskursi) diafragma.
      2) Jenis suara perkusi :
      3) Suara perkusi normal resonan (sonor) : dihasilkan untuk mengetahui batas antara bagian jantung dan paru.
   d. Auskultasi
      1) Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas normal, suara tambahan (abnormal), dan suara.
      2) Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih.
      3) Suara nafas normal :
• Bronchial : Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut.
  • Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.
• Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada.

6. SISTEM MUSKULOSKELETAL
   a. Inspeksi
      1) Pada saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk menampakkan seluruh tubuh.
      2) Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amati adanya atrofi atau hipertrofi. Kelurusan tulang belakang, diperiksa dengan pasien berdiri tegak dan membungkuk ke depan.
      3) Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya dengan menggunakan meteran.
      4) Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontraktur yang ditunjukkan oleh malposisi suatu bagian tubuh.
      5) Amati kenormalan susunan tulang dan adanya deformitas.
      6) Skoliosis ditandai dengan kulvatura lateral abnormal tulang belakang, bahu yang tidak sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetris, dan skapula yang menonjol, akan lebih jelas dengan uji membungkuk ke depan.
      7) Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan Persendian.
      8) Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian.
      9) Inspeksi pergerakkan persendian.
   b. Palpasi
      1) Palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot bergerak secara aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba-tiba secara involunter (spastisitas)
      2) Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri.
      3) Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.
      4) Palpasi sendi sementara sendi digerakkan secara pasif akan memberikan informasi mengenai integritas sendi. Normalnya, sendi bergerak secara halus. Suara gemletuk dapat menunjukkan adanya ligament yang tergelincir di antara tonjolan tulang. Permukaan yang kurang rata, seprti pada keadaan arthritis, mengakibatkan adanya krepitus karena permukaan yang tidak rata tersebut yang saling bergeseran satu sama lain.
      5) Periksa adanya benjolan, rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritis menimbulkan benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada rheumatoid arthritis lunak dan terdapat di dalam dan sepanjang tendon yang memberikan fungsi ekstensi pada sendi biasanya, keterlibatan sendi mempunya pola yang simetris. Benjolan pada GOUT keras dan terletak dalam dan tepat disebelah kapsul sendi itu sendiri.
      6) Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett’s (memiliki nilai 0 – 5)
0 =  Tidak ada kontraksi sama sekali.
1 =  Gerakan kontraksi.
2 =  Kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau melawan
3 =  Tahanan atau gravitasi.
4 =  Cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.
5 =  Cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.
6 =  Kekuatan kontraksi yang penuh.
   c. Perkusi
      1) Refleks patela, Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut.
      2) Refleks biceps, lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90º, supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m. biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukul dengan refleks hammer. Normal jika timbul kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu.
      3) Refleks triceps, lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 90º, tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara.
      4) Refleks achilles, posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan/disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral. Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.
      5) Refleks abdominal, dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores.
      6) Refleks Babinski, merupakan refleks yang paling penting . Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki.

7. SISTEM ENDOKRIN
   a. Inspeksi
      1) (warna kulit) : Hiperpigmentasi ditemukan pada klien addison desease atau cushing syndrom. Hipopigmentasi terlihat pada klien diabetes mellitus, hipertiroidisme, hipotiroidisme.
      2) Wajah : Variasi, bentuk dan struktur muka mungkin dapat diindikasikan dengan penyakit akromegali mata.
      3) Kuku dan rambut : Peningkatan pigmentasi pada kuku diperlihatkan oleh klien dengan penyakit addison desease, kering, tebal dan rapuh terdapat pada penyakit hipotiroidisme, rambut lembut hipertyroidisme. Hirsutisme terdapat pada penyakit cushing syndrom.
      4) Inspeksi ukuran dan proporsional struktur tubuh klien : Orang jangkung, yang disebabkan karena insufisiensi growth hormon. Tulang yang sangat besar, bisa merupakan indikasi akromegali.
      5) Tanda trousseaus dan tanda chvoteks : Peningkatan kadar kalsium tangan dan jari-jari klien kontraksi (spasme karpal).
   b. Palpasi
      1) Kulit kasar, kering ditemukan pada klien dengan hipotiroidisme. Dimana kelembutan dan bilasan kulit bisa menjadi tanda pada klien dengan hipertiroidisme. Lesi pada ekstremitas bawah mengindikasikan DM.
      2) Palpasi kelenjar tiroid (tempatkan kedua tangan anda pada sisi lain pada trachea dibawah kartilago thyroid. Minta klien untuk miringkan kepala ke kanan Minta klien untuk menelan. Setelah klien menelan. pindahkan pada sebelah kiri. selama palpasi pada dada kiri bawah) : Tidak membesar pada klien dengan penyakit graves atau goiter.
   c. Auskultasi
      Auskultasi pada daerah leher diata tiroid dapat mengidentifikasi bunyi "bruit“. Bunyi yg dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Normalnya tidak ada bunyi.

8. SISTEM INTEGUMEN
   a. Inspeksi
      1) Kaji integritas kulit warna flushing, cyanosis, jaundice, pigmentasi yang tidak teratur
      2) Kaji membrane mukosa, turgor, dan keadaan umum, kulit
      3) Kaji bentuk, integritas, warna kuku.
      4) Kaji adanya luka, bekas operasi/skar, drain, dekubitus.
   b. Palpasi
      1) Adanya nyeri, edema, dan penurunan suhu.
      2) Tekstur kulit.
      3) Turgor kulit, normal < 3 detik
      4) Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperatur, bentuk, mobilisasi.
      5) Palpasi Capillary refill time : warna kembali normal setelah 3 – 5 detik.

9. SISTEM NEUROLOGI
   a. Inspeksi
      1) Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang.
      2) Kaji status mental.
      3) Kaji adanya kejang atau tremor.
   b. Palpasi
      1) Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan pengobatannya.
      2) Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal.
      3) Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur.
   c. Perkusi
      1) Refleks patela, diketuk pada regio patela (ditengah tengah patela).
      2) Refleks achilles, dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.

10. SISTEM REPRODUKSI
    a. Inspeksi
       1) Keadaan umum, pemeriksaan khusus obstetri, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan tambahan.
       2) Inspeksi tentang status gizi : anemia, ikterus.
       3) Kaji pola pernapasan (sianosis, dispnea).
       4) Apakah terdapat edema, bagaimana bentuk dan tinggi badan, apakah ada perubahan pigmentasi, kloasma gravidarum, striae alba, striae lividae, striae nigra, hiperpigmentasi, dan areola mamma.
    b. Palpasi
       1) palpasi menurut Leopold I-IV
       2) Serviks, yaitu untuk mengetahui pelunakan serviks dan pembukaan serviks.
       3) Ketuban, yaitu untuk mengetahui apakah sudah pecah atau belum dan apakah ada ketegangan ketuban.
       4) Bagian terendah janin, yaitu untuk mengetahui bagian apakah yang terendah dari janin, penurunan bagian terendah, apakah ada kedudukan rangkap, apakah ada penghalang di bagian bawah yang dapat mengganggu jalannya persalinan.
       5) Perabaan forniks, yaitu untuk mengetahui apakah ada bantalan forniks dan apakah bagian janin masih dapat didorong ke atas.
    c. Auskultasi
       Auskultasi untuk mengetahui bising usus, gerak janin dalam rahim, denyut jantung janin, aliran tali pusat, aorta abdominalis, dan perdarahan retroplasenter.

11. SISTEM PERKEMIHAN
    a. Inspeksi
       1) Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan dan ada/tidaknya sedimen.
       2) Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta riwayat infeksi saluran kemih.
       3) Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter.
       4) Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan.
    b. Palpasi
       1) Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)
       2) Untuk melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. Tangan kiri diletakkan di belakang penderita, paralel pada costa ke-12, ujung cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan). Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran, nyeri tekan ga). Pasien diminta membuang nafas dan berhenti napas, lepaskan tangan kanan, dan rasakan bagaimana ginjal kembali waktu ekspirasi.
       3) Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita, Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Tangan kiri diletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (normalnya jarang teraba).
    c. Perkusi
       Untuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan mempersilahkan penderita untuk duduk menghadap ke salah satu sisi, dan pemeriksa berdiri di belakang penderita. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kanan). Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kiri). Penderita diminta untuk memberiksan respons terhadap pemeriksaan bila ada rasa sakit.

Rabu, 26 Oktober 2011

nervus cranialis terbagi menjadi 12 nervus, diantaranya :


  1. Nervus olfaktorius, mensarafi indera penciuman
  2. Nervus optikus, mensarafi indera penglihatan, tajam penglihatan
  3. Nervus okulomotorius, mensarafi gerakan bola mata dari dalam keluar
  4. Nervus trochlearis, mensarafi gerakan bola mata ke bawah dan samping kanan kiri
  5. Nervus trigeminus, mensarafi kulit wajah, reflek kornea, kepekaan lidah dan gigi
  6. Nervus abdusen, mensarafi gerakan bola mata ke samping
  7.  Nervus facialis, mensarafi otot wajah, lidah (pengecapan)
  8. Nervus auditorius, mensarafi indera pendengaran, menjaga keseimbangan
  9. Nervus glosofaringeus, mensarafi gerakan lidah, menelan
  10. Nervus vagus, mensarafi faringe laring, gerakan pita suara, menelan
  11. Nervus accecorius, mensarafi gerakan kepala dan bahu
  12. Nervus hipoglosus, mensarafi gerakan lidah

Minggu, 09 Oktober 2011

Diabetes Mellitus



Pengertian
Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pa

da seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).

Klasifikasi

Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
  1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
  2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
  3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
  4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

Etiologi
  1. Diabetes tipe I :
  • Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatupredisposisi atau kecenderungan genetik ke arah
terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
  • Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
  • Faktor lingkungan
  1. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor gen
etik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
  • Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
  • Obesitas
  • Riwayat keluarga
Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lans
ia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena kata
rak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobat
an lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
  1. Katarak
  2. Glaukoma
  3. Retinopati
  4. Gatal seluruh badan
  5. Pruritus Vulvae
  6. Infeksi bakteri kulit
  7. Infeksi jamur di kulit
  8. Dermatopati
  9. Neuropati perifer
  10. Neuropati viseral
  11. Amiotropi
  12. Ulkus Neurotropik
  13. Penyakit ginjal
  14. Penyakit pembuluh darah perifer
  15. Penyakit koroner
  16. Penyakit pembuluh darah otak
  17. Hipertensi
Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.

Pemeriksaan Penunjang
  1. Glukosa darah sewaktu
  2. Kadar glukosa darah puasa
  3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu
  • Plasma vena :
  • <100>
  • 100 – 200 = belum pasti DM
  • >200 = DM
  • Darah kapiler :
  • <80>
  • 80 – 100 = belum pasti DM
  • > 200 = DM
Kadar glukosa darah puasa
  • Plasma vena :
  • <110>
  • 110 – 120 = belum pasti DM
  • > 120 = DM
  • Darah kapiler :
  • <90>
  • 90 – 110 = belum pasti DM
  • > 110 = DM
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
  1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
  2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
  3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
  1. Diet
  2. Latihan
  3. Pemantauan
  4. Terapi (jika diperlukan)
  5. Pendidikan